Diberdayakan oleh Blogger.

Nama: Reza Anugrah
NPM: 15215817
KELAS: 1EA26
MANUSIA dan KEGELISAHAN


Ilmu Budaya Dasar : Manusia dan Kegelisahan
Manusia dan Kegelisahan
A.    Pengertian Kegelisahan
     Kegelisahan berasal dari kata gelisah, yang berarti tidak tentram hatinya, selalu merasa khawatir, tidak tenang, tidak sabar, ataupun cemas. Sehingga kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan seseorang yang hatinya tidak tentram, merasa khawatir, tidak tenang dalam bertingkah laku, atau sedang dalam rasa cemas.

     Kegelisahan hanya bisa diketahui melalui tingkah laku atau gerak-gerik seseorang dalam situasi tertentu. Tingkah laku atau gerak-gerik orang yang sedang gelisah umunya lain dari biasanya. Contohnya ada yang menggerakkan kakinya terus menerus, berjalan mondar mandir, murung dan lain-lain.

     Kegelisahan juga bisa dikatakan sebagai ekspresi dari kecemasan. Karena itu dalam kehidupan sehari-hari, kegelisahan diartikan sebagai kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan. Masalah kecemasan berkaitan juga dengan masalah frustasi yang secara definisi dapat disebutkan, bahwa seseorang yang mengalami frustasi disebabkan karena keinginannya tidak tercapai.

     Sigmund Freud mengatakan bahwa ada tiga macam kecemasan yang menimpa manusia, yaitu :
a.       Kecemasan obyektif
Kecemasan yang disebabkan akibat dari suatu pengamatan atau suatu bahaya dari dunia luar.
b.      Kecemasan neoritis (syaraf)
Kecemasan ini timbul karena pengamatan tentang bahaya dari naluriah.
c.       Kecemasan Moril
Kecemasan moril disebabkan karena pribadi seseorang. Setiap pribadi mmiliki bermacam-macam emosi, ada iri, dengki, dendam, marah, gelisah dan sebagainya. Emosi-emosi tersebut menyebabkan manusia akan merasa khawatir, takut, cemas, gelisah, danputus asa.

B.    Sebab-Sebab Orang Gelisah
     Apabila dikaji, sebab-sebab orang gelisah adalah karena pada hakekatnya orang takut kehilangan hak-haknya. Hal itu adalah akibat dari suatu ancaman, baik ancaman dari luar maupun dari dalam.

C.     Usaha-Usaha Mengatasi Kegelisahan
     Untuk mengatasi kegelisahan pertama-tama harus dimulai dari diri sendiri, yaitu dengan tetap bersikap tenang supaya bisa berpikir dengan tenang. Sehingga segala kesulitan dapat teratasi.

D.    Keterasingan
     Keterasingan berasal dari kata terasing yang berdasarkan dari kata asing. Kata asing berarti sendiri, tidak dikenal orang. Sehingga kata terasing berarti tersisihkan dari pergaulan, terpisah dari yang lain atau terpencil. Jadi kata keterasingan adalah hal-hal yang berkenaan dengan tersisihnya seseorang dari pergaulan, terpencil atau terpisah dari yang lain.

     Terasing atau keterasingan merupakan bagian dari hidup manusia. Sebentar atau lama, orang pernah mengalami hidup dalam keterasingan. Kadar atau tingkat keterasingan seseorang dengan orang lainnya sudah pasti berbeda-beda.

     Yang menyebabkan orang berada dalam keterasingan ialah perilakunya yang tidak dapat diterima atau tidak dapat dibenarkan oleh masyarakat atau karena kekurangan yang ada pada diri seseorang sehingga ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan orang lainnya.

     Orang yang bersikap angkuh dan sombong akan selalu tersisih dari pergaulan karena perilaku semacam itu tidak disenangi dan justru dibenci oleh masyarakat. Karena itulah orang yang memiliki sifat seperti itu akan dibenci oleh orang lain dan membuatnya tersisih dalam pergaulan.

     Kekurangan yang ada pada diri seseorang jga dapat membat keterasingan. Dalam hal ini bukan masyarakat yang membuat orang itu terasing, melainkan dirinya sendiri karena ketidakmampuan atau karena kesalahan yang ia perbuat.

E.    Kesepian
     Kesepian berasal dari kata sepi yang berarti sunyi atau lenggang, sehingga kata kesepian dapat diartikan merasa sunyi atau lenggang, tidak berteman. Setiap orang pernah mengalami kesepian.

     Sebab-sebab terjadinya kesepian bermacam-macam. Frustasi dapat menyebabkan kesepian. Dalam hal ini orang yang bersangkutan tidak mau diganggu, ia lebih senang dalam keadaan sepi, tidak suka bergaul, dan lebih senang hidup sendiri

     Kesepian merupakan akibat dari keterasingan. Keterasingan akibat sikap sombong, angkuh, kaku, keras kepala itu membuatnya dijauhi teman-teman sepergaulannya. Karena teman-temannya menjauhi dirinya maka ia hidup terasing, terpencil jauh dari keramaian sehingga kesepian.

F.     Ketidakpastian
     Ketidakpastian berasal dari kata tidak pasti yang artinya tidak tentu, tidak dapat ditentukan, tidak tahu, tanpa arah yang jelas, tanpa asal-usul yang jelas. Ketidakpastian artinya keadaan yang tidak pasti, tidak tentu, tidak dapat ditentukan, tidak tahu, keadaan tanpa arah yang jelas, keadaan tanpa asal-usul yang jelas. Itu semua adalah akibat pikirannya tidak dapat konsentrasi. Ketidak konsentrasian disebabkan oleh berbagai sebab yang membuat pikirannya kacau.

     Ketidakpastian tentang lulus tidaknya dalam ujian sarjana yang sudah ditunggu-tunggu pasti membuat orang yang menghadapinya menjadi gelisah. Lulus atau tidaknya ujian sarjana akan menentukan status karir seseorang dalam hidupnya. Ketidak pastian ini akan merugikan karena status dari karir itu terancam. Karena ketidakpastian itu status yang telah ditetapkan oleh atasan menjadi hilang, berhubung ada orang lain yang lebih dulu mendapatkannya.

G.    Sebab-Sebab Terjadi Ketidakpastian
     Orang yang pikirannya terganggu tidak dapat berpikir secara teratur, terlebih bila harus mengambil sebuah kesimpulan. Dalam berpikir manusia selalu menerima rangsangan-rangsangan lain, sehingga jalan pikirannya akan kacau bila menerima rangsangan-rangsangan baru lainnya. Adapun beberapa hal yang membuat seseorang tidak dapat berpikir dengan pasti, diantaranya :
1.      Obsesi
Obsesi merupakan gejala neurosa jiwa, yaitu adanya pikiran atau perasaan tertentu yang terus menerus, bisa hal yang tidak menyenangkan atau sebab-sebab lainnya yang tidak diketahui oleh penderita.

2.      Phobia
Ialah rasa ketakutan yang tak terkendali, tidak normal pada sesuatu yang tidak diketahui sebab-sebabnya.

3.      Kompulasi
Ialah adanya keragu-raguan tentang apa yang telah dikerjakan, sehingga ada dorongan yang tak disadari melakukan perbuatan yang serupa berkali-kali.

4.      Histeria
Histeria ialah neorosa jiwa yang disebabkan oleh tekanan mental, kekecewaan, pengalaman pahit yang menekan, kelemahan syaraf, tidak mampu menguasai diri, sugesti dari sikap orang lain.

5.      Delusi
Menunjukkan pikiran yang tidak beres karena berdasarkan suatu keyakinan palsu. Tidak dapat memakai akal sehat, tidak ada dasar kenyataan dan tidak sesuai dengan pengalaman.

6.      Halusinasi
Halusinasi merupakan khayalan yang terjadi tanpa rangsangan pancaindera. Dengan sugesti diri, orang juga dapat berhalusinasi.

7.      Keadaan Emosi
Dalam keadaan tertentu seseorang sangat berpengaruh oleh emosinya. Hal ini nampak pada keseluruhan pribadinya.

H.    Usaha-Usaha Penyembuhan Ketidakpastian
     Orang yang tidak dapat berpikir dengan baik, ada bermacam-macam penyebabnya. Untuk dapat menyembuhkan keadaan tersebut tergantung pada mental si penderita.

     Bila penyebabnya jelas misalnya rindu pada seseorang maka obatnya dengan dipertemukan. Phobia atau rasa takut bisa dilatih sedikit demi sedikit.

     Orang yang bersikap sombong atau angkuh bila mengalami musibah, baru berkurang kesombongannya, tapi mungkin juga tidak. Andaikata mereka sadar, kesembuhan itu adalah karena pengalaman. Jadi yang menyembuhkannya adalah masyarakat sekitar dan dirinya sendiri.

Sumber :  Ilmu Budaya Dasar oleh Widyo Nugroho dan Achmad Muchji

Read comments

MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB SERTA PENGABDIAN


NAMA : REZA ANUGRAH
KELAS :1EA26
NPM    :15215817

A. PENGERTIAN TANGGUNG JAWAB
Tanggung jawab menurut kamus umum Bahasa Indonesia adalah, keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab menurut kamus Bahasa Indonesia adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab,mananggung segala sesuatunya, atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya. Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan yang disengaja mauun yang tidak di sengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
Tanggung jawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian kehidupan manusia, bahwa setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab. Apabila ia tidak mau bertanggung jawab, maka ada pihak lain yang memaksakan tanggung jawab itu. Dengan demikian tanggung jawab itu dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi pihak yang berbuat dan dari sisi kepentingan pihak lain.
Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan mengabdian atau pengorbanannya. Untuk memperoleh atau meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan, penyuluhan, keteladanan, dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
B. MACAM-MACAM TANGGUNG JAWAB
Tanggung jawab itu dapat dibedakan menurut keadaan manusia atau hubungan yang dibuatnya. Atas dasar ini, lalu dikenal beberapa jenis tanggung jawab, yaitu:
  • Tanggung Jawab Terhadap Diri Sendiri
Tanggung jawab terhadap diri sendiri menuntut kesadaran setiapp orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi. Dengan demikian bisa memecahkan masalah-masalah kemanusian mengenai dirinya sendiri. Contohnya: Rudi membaca sambil berjalan. Meskipun sebentar-bentar ia melihat ke jalan tetap juga ia lengah dan terperosok ke sebuah lubang. Ia harus beristirahat diruma beberapa hari. Konsekuensi tinggal dirumah beberapa hari merupakan tanggung jawab ia sendiri akan kelengahannya.
  • Tanggung Jawab Terhadap Keluarga
Keluarga merupakan masyarakat kecil. Keluarga terdiri dari suami-istri, ayah-ibu dan anak-anak, dan juga orang lain yang menjadi anggota keluarga. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan. Contohnya: Dalam sebuah keluarga biasanya memiliki peraturan-peraturan sendiri yang bersifat mendidik, suatu hal peraturan tersebut dilanggar oleh salah satu anggota keluarga. Sebagai kepala keluarga (Ayah) berhak menegur atau bahkan memberi hukuman. Hukuman tersebut merupakan tanggung jawab terhadap perbuatannya.
  • Tanggung Jawab terhadap Masyarakat
Pada hakekatnya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain, sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk sosial. Karena membutuhkan manusia lain maka ia harus berkomunikasi denhan manusia lain tersebut. Sehingga dengan demikian manusia di sini merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab tersebut. Wajarlah apabila segala tingkah laku dan perbuatannya harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat. Contohnya: Safi’i terlalu congkak dan sombong, ia mengejek dan menghina orang lain yang mungkin lebih sederhana dari pada dia. Karena ia termasuk dalam orang yang keya dikampungnya. Ia harus bertanggung jawab atas kelakuannya tersebut. Sebagai konsekuensi dari kelakuannya tersebut, Safi’i dijauhi oleh masyarakat sekitar.
  • Tanggung Jawab Terhadap Bangsa/Negara
Suatu kenyataan lagi, bahwa setiiap manusia, tiap individu adalah warga negara suatu negara. Dalam berfikir, berbuat, bertindak, bertinggah laku manusia terikat oleh norma-norma atau ukuran-ukuran yang dibuat oleh negara. Manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatan manusia itu salah, maka ia harus bertanggung jawab kepada negara. Contohnya: Dalam novel “Jalan Tak Ada Ujung” karya Muchtar Lubis, Guru Isa yang terkenal sebagai guru yang baik, terpaksa mencuri barang-barang milik sekolah demi rumah tangganya. Perbuatan guru Isa ini harus pula dipertanggungjawabkan kepada pemerintah, kali perbuatan itu diketahui ia harus berurusan dengan pihak kepolisian dan pengadilan.
  • Tanggung Jawab Terhadap Tuhan
Tuhan menciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tanggung jawab, melainkan untuk mngisi kehidupannya manusia mempunyai tanggung jawab langsung terhadap Tuhan. Sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari hukuman Tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agama. Pelanggaran dari hukuman-hukuman tersebut akan segera diperingati oleh Tuhan dan jika dengan peringatan yang keraspun manusia masih juga tidak menghiraukannya maka Tuhan akan melakukan kutukan. Contohnya: Seorang muslim yang taat kepada agamanya maka ia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan kepada Tuhan. Karen ia menghindari hukuman yang akan ia terima jika tidak taat pada ajaran agama.
C. PENGABDIAN DAN PENGORBANAN
a) Pengabdian
Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta, kasih sayang, hormat, atau satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas. Pengabdian itu pada hakekatnya adalah rasa tanggung jawab.
MACAM-MACAM PENGABDIAN
  • Pengabdian Kepada Agama/Tuhan
  • Pengabdian Kepada Negara/Bangsa
  • Pengabdian Kepada Masyarakat
CONTOH DARI PENGABDIAN
Seseorang yang mengabdikan diri kepada Negara menjadi seorang guru bukan semata-mata karena uang, pangkat atau jabatan yang dimilikinya melainkan karena rasa simpati dan keinginan yang besar untuk dapat membantu mendidik putra-putri kita agar menjadi penerus Bangsa yang hebat berguna bagi Bangsa sendiri maupun Bangsa lain.
(b) Pengorbanan
Pengorbanan berasak dari kata korban atau kurnam yang berarti persembahan, sehingga pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan demikian pengorbanan yang bersifat kebaktian itu mengandung unsur keikhlasan yang tidak mengandung pamrih. Suatu pemberian yang didasarkan atas kesadaran moral yang tulus ikhlas semata-mata.
MACAM-MACAM PENGORBANAN
  • Pengorbanan Tehadap Tuhan/Agama
  • Pengorbanan Terhadap Bangsa/Negara
  • Pengorbanan Terhadap Masyarakat
  • Pengorbanan Terhadap Keluarga
  • Pengorbanan Terhadap Diri Sendiri
AKIBAT DARI PENGORBANAN
Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda, pikiran, perasaan, bahkan dapat juga berupa jiwanya. Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, dan kapa saja diperlukan.
CONTOH DARI PENGORBANAN
Pangeran Sidharta Gautama dari Kapilawastu diharapkan oleh ayahnya untuk kemudian menggantikan kedudukannya sebagai raja. Tetapi, Pangeran tersebut lebih tertatik pada kehidupan pertapa untuk memperoleh penerangan agung bagaimana caranya manusia dapat membebaskan dirinya dari sengsaa melalui pelepasan dan mencapai kehidupan abadi di sorga. Ia mengorbankan kehidupannya yang mewah duniawi dalam istana, ia mengorbankan kepentingan keluarganya, karena memandang bahwa kepentingan umat manusia perlu didahulukan.

Read comments




ILMU BUDAYA DASAR

MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP 

NAMA : REZA ANUGRAH
KELAS :1EA26
NPM    :15215817


A.    PENGERTIAN PANDANGAN HIDUP
Setiap manusia mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati karena ia menentukan masa depan seseorang. Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia.
Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya. Atas dasar itu manusia menerima hasil pemikiran itu sebagai pegangan, pedoman, arahan, atau petunjuk yang disebut pandangan hidup. Pandangan hidup berdasarkan asalnya yaitu terdiri dari 3 macam :
1.    Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak  kebenarannya.
2.    Pandangan hidup yang berupa ideology yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada suatu Negara.
3.    Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.

B. CITA-CITA
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, cita-cita adalah keinginan atau kehendak yang selalu ada di dalam pikiran atau sebuah tujuan sempurna (yang akan dicapai atau dilaksanakan) dimana untuk mewujudkannya, kepentingan pribadi harus dikesampingkan.
Banyak orang yang mengganggap mimpi atau impian itu sama dengan khayalan atau angan-angan tetapi sebenarnya serupa tapi tak sama. Mimpi atau impian itu lebih ke arah sesuatu yang dapat digapai sedangkan khayalan atau lamunan itu lebih ke arah keinginan yang tidak dapat direalisasikan.
Dari kecil kita sering dinasehati oleh orangtua, guru ataupun orang lain untuk memiliki cita-cita setinggi langit. Semua itu memang benar karena dengan adanya cita-cita atau impian dalam hidup kita akan membuat kita semangat dan bekerja keras untuk menggapai kehidupan yang lebih baik di dunia.

C.    KEBAJIKAN
Kebajikan atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakekatnya sama dengan perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama dan etika.
Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik, mahluk bermoral. Atas dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik. Manusia adalah seorang pribadi yang utuh yang terdiri atas jiwa dan badan.
Manusia merupakan mahluk sosial yang berarti manusia hidup bermasyarakat, manusia saling membutuhkan, saling menolong, saling menghargai sesama anggota masyarakat. Sebaliknya pula saling mencurigai, saling membenci, saling merugikan, dan sebagainya.
Sebagai mahluk pribadi, manusia dapat menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang buruk. Baik buruk itu ditentukan oleh suara hati. Suara hati adalah semacam bisikan di dalam hati yang mendesak seseorang, untuk menimbang dan menentukan baik buruknya suatu perbuatan, tindakan atau tingkah laku.
Faktor-faktor yang menentukan tingkah laku setiap orang ada tiga, yaitu:
1. Pertama faktor pembawaan yang telah ditentukan pada waktu seseorang masih dalam kandungan.
2. Faktor kedua yang menentukan tingkah laku seseorang adalah lingkungan.
3. Faktor ketiga yang menentukan tingkah laku seseorang adalah pengalaman yang khas yang pernah diperoleh.

D.    USAHA ATAU PERJUANGAN
Usaha atau perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Kerja keras itu dapat dilakukan dengan otak atau ilmu maupun denan tenaga ataupun dengan jasmani, atau dengan kedua-duanya. Kerja keras pada dasarnya menghargai dan meningkatkan harkat dan martabat manusia. Untuk bekerja keras manusia dibatasi oleh kemampuan, karena kemampuan terbatas timbul perbedaan tingkat kemakmuran antara manusia satu dan manusia lainnya.
Perjuangan tidak selalu identik dengan lamanya kita melakukan proses implementasi untuk mewujudkan keinginan kita. Bisa jadi seseorang membutuhkan perjuangan yang lebih singkat dengan sedikit sumber daya yang dibutuhkan, sedangkan individu lainnya justru sebaliknya.Kesiapan, ketersediaan dan kualitas sumber daya, strategi, situasi dan tingkat kesulitan yang dihadapi, serta dukungan dari lingkungan eksternal amat menentukan seberapa besar dan lamanya sebuah perjuangan harus dilakukan.

E.     KEYAKINAN ATAU KEPERCAYAAN
Keyakinan/kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup berasal dari akal atau kekuasaan Tuhan. Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, ada 3 aliran filsafat yaitu :
1.      Aliran naturalisme; hidup manusia itu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi. Kekuatan gaib itu dari nature, dan itu dari Tuhan. Tetapi yang tidak percaya pada Tuhan, nature itulah yang tertinggi. Aliran naturalisme berisikan spekulasi mungkin ada Tuhan mungkin juga tidak ada.
2.      Aliran intelektualisme; dasar aliran ini adalah logika atau akal. Manusia mengutamakan akal. Dengan akal manusia berpikir, mana yang benar menurut akal itulah yang baik, walaupun bertentangan dengan kekuatan hati nurani. Manusia yakin bahwa dengan kekuatan piker (akal) kebajikan itu dapat dicapai dengan sukses. Dengan akal diciptakan teknologi, teknologi adalah alat Bantu mencapai kebajikan yang maksimal, walaupun mungkin teknologi memberi akibat yang bertentangan dengan akal. Apabila aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka keyakinan manusia itu bermula dari akal. Jadi pandangan hidup ini dilandasi oleh keyakinan kebenaran yang diterima akal.Benar menurut akal itulah yang baik. Manusia yakin bahwa kebajikan hanya dapat diperoleh dengan akal dengan kata lain ilmu dan teknologi. Pandangan hidup ini disebut liberalisme. Kebebasan akal menimbulkan kebebasan bertingkah laku dan berbuat, walaupun tingkah lakudan perbuatannya itu bertentangan dengan hati nurani. Kebebasan akal lebih ditekankan pada setiap individu. Karena itu individu yang berakal atau berilmu dapat menguasai individu yang berpikir rendah.
3.      Aliran gabungan; dasar aliran ini adalah kekuatan gaib dan juga akal. Kekuatan gaib artinya kekuatan yang berasal dari Tuhan, percaya adanya Tuhan sebagai dasar keyakinan. Sedangkan akal adalah dasar kebudayaan, yang menentukan benar tidaknya sesuatu. Segala sesuatu dinilai dengan akal, baik sebagai logika berpikir maupun sebagai rasa (hati nurani). Jadi apa yang benar menurut logika berpikir juga dapat diterima oleh hati nurani. Apabial aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka akan timbil dua kemungkinan pandangan hidup. Apabila keyakinan lebih berat didasarkan pada logika berpikir, sedangkan hati nurani dinomorduakan, kekuatan gaib dari Tuhan diakui adanya tetapi tidak menentukan, dan logika berpikir tidak ditekankan pada logika berpikir individu, melainkan logika berpikir kolektif (masyarakat), pandangan hidup ini disebut sosialisme. Apabila dasar keyakinan itu kekuatan gaib dari Tuhan dan akal, kedua-duanya mendasari keyakinan secara berimbang, akan dalam arti baik sebagia logika berpikir maupun sebagai daya rasa (hati nurani), logika berpikir baik secara individual maupun secara kolektif panangan hidup ini disebut sosialisme-religius. Kebajikan yang dikehendaki adalah kebajikan menurut logika berpikir dan dapat diterima oleh hati nurani, semuanya itu berkat karunia Tuhan.



F.     LANGKAH-LANGKAH BERPANDANGAN HIDUP YANG BAIK
Setiap manusia pasti mempunyai pandangan hidup apapun dan bagaimanapun itu untuk dapat mencapai dan berhasil dalam kehidupan yang diinginkannya. Tetapi apapun itu, yang terpenting adalah memiliki pandangan hidup yang baik agar dapat mencapai tujuan dan cita-cita dengan baik pula.
Adapun langkah-langkah berpandangan hidup yang baik yakni :
1.      Mengenal, mengenal merupakan suatu kodrat bagi manusia yaitu merupakan tahap pertama dari setiap aktivitas hidupnya yang dalam jal ini mengenal apa itu pandangan hidup.
2.      Mengerti, mengerti disini dimaksudkan mengerti terhadap pandangan hidup itu sendiri. Bila dalam bemegara kita berpandangan pada Pancasila, maka dalam berpandangan hidup pada Pancasila kita hendaknya mengerti apa Pancasila dan bagaimana mengatur kehidupan bemegara. Begitu juga bagai yang berpandangan hidup pada agama Islam. Hendaknya kita mengerti apa itu Al-Qur’an, hadist dan bagaimana kedua hal tersebut mengatur kehidupan baik di dunia maupun di akhirat.
3.      Mengkhayati, dengan menghayati pandangan hidup kita memperoleh gambaran yang tepat dan benar mengenai kebenaran pandangan hdiup itu sendiri. Menghayati disini dapat diibaratkan menghayati nilai-nilai yang terkandung didalamnya, yaitu dengan memperluas dan mernperdalam pengetahuan mengenai pandangan hidup itu sendiri. Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam rangka menghayati ini, menganalisa hal-hal yang berhubungan dengan pandangan hidup, bertanya kepada orang yang dianggap lebih tahu dan lebih berpengalaman mengenai isi pandangan hidup itu atau mengenai pandangan hidup itu sendiri. Jadi dengan menghayati pandangan hidup kita akan memperoleh mengenai kebenaran tentang pandangan hidup itu sendiri.
4.      Meyakini, meyakini merupakan suatu hal untuk cenderung memperoleh suatu kepastian sehingga dapat mencapai suatu tujuan hidupnya.

5.      Mengabdi, mengabdi merupakan sesuatu hal yang penting dalam menghayati dan meyakini sesuatu yang telah dibenarkan dan diterima baik oleh dirinya lebih-lebih oleh orang lain. Dengan mengabdi maka kita akan merasakan manfaatnya. Sedangkan perwujudan manfaat mengabdi ini dapat dirasakan oleh pribadi kita sendiri. Dan manfaat itu sendiri bisa terwujud di masa masih hidup dan atau sesudah meninggal yaitu di alam akhirat.

Read comments

NAMA :Reza anugrah
Kelas  : 15215817
NPM   :1EA26
MANUSIA DAN KEADILAN (ILMU BUDAYA DASAR)

1. MAKNA KEADILAN

Manusia sebagai makhluk Tuhan adalah makhluk tertinggi yang memiliki gejala gejala istimewa yang hanya terdapat pada benda mati ataupun benda hidup seperti pada hewan ataupun pada tumbuh-tumbuhan.Gejala-gejala istimewa itu bisa kita golongkan menjadi tiga yaitu akal, rasa, dan kehendak. Rasaa dan kehendak ini menyatu pada manusia terdiri atas manunggalnya jiwa dan raga yang kemudian menjadai sumber-sumber kemampuan, kecerdasan ataupun kecakapan manusia dalam mengatur hidupnya

            Manusia sebagai makhluk tuhan memiliki sifat kodrat yaitu sifat individual.dalam istilah filsafat, sifat manusia di sebut monodualis. Di tinjau dari kepentingan hidupnya, manusia sebegai makhluk hidup pribadi mengatur hubungan hidupnya sedangkan manusia makhluk sosial mengatur hubungan manusia dengan manusia lainya.Tidak mungkin manusia bissa hidup secaraa individual,sebagaai makhluk Tuhan manusia mengatur hubunganya dengan tuhan delam mengatur hubungan manusia membutuhkan keserasian dan kesamaan.Oleh sebab itu tingkah laku adil atau keadilan menjadi harapan manusia, semua orang menghendaki keadilan dengan kesadaran akan keadilan kita akan mampu memenuhi cipta, rasa dan karsa menusia terhadap sesama atau pihak lain sehingga akan membentuk hati nurani yang kita sebut : cintah kasih.

            Pada dasarnya sifat asli manusia itu mempunyai ifat keadilan bahkan untuk meingkatkan kehidupan orang lain keadilan dan cinta kasih itu saling melengkapi tanpa cinta kasih keadilan dilaksanakan atas dasar hukum saja sehingga akan berlaku kejam dan mungkin akan terjadi kecurangan dan penipuan. Apa bila seseorang atau kelompok mementingkan kepentingan sendiri tanpa memikirkan kepentingan orang lain meka terjadilah keadilan semu misalnya
a)     Pengusaha                 : Bagi mereka menamakan adil, apabila keuntungan terbesar jatuh pada pihak pedagang
b)     Buruh                         : Bagi buruh menggap adil apabila upah dibayar pada waktunya dan keuntungan perusahaan juga dibagi wajar kepada buruh
c)      Golongan demokrat  : Menganggap adil apabila kepentingan rakyat selalu di utamakan
d)     Golongan komunis    : Menggap adil sekiranya hak miik perseorangan ditiadakan
Menurut Para Ahli
-        Khong Hu Tsu, Seorang filosof Cina menuturkan tentang keadilan dan berpendapat sebegai berikut “Bila aanak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah, bila raja sebagai raja, masing masing telah melaksanakan kewajibanya, maka itulah keadilan.
-        Aristoteles mengatakan bahwa keadilan adalah suatu kelayakan dalam tindakan manusia.
-        Plato menganggap bahwa keadilan itu merupakan kewajiban tertinggi dalam kehidupan negara baik,sedangkan orang adil adalah orang yang mempu mengndalikan diri

BERBAGAI MACAM KEADILAN

a)   Keadilan Legal atau Keadilan Moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan yang menurut sifat dasarnya paling cocok baginya (Than man behind the gun). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan Sunoto menyebutnya keadilan legal.

b)   Keadilan Distributif
Aristoles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama (justice is done when equals are treated equally) Sebagai contoh: Ali bekerja 10 tahun dan budi bekerja 5 tahun. Pada waktu diberikan hadiah harus dibedakan antara Ali dan Budi, yaitu perbedaan sesuai dengan lamanya bekerja. Andaikata Ali menerima Rp.100.000,-maka Budi harus menerima Rp. 50.000,-. Akan tetapi bila besar hadiah Ali dan Budi sama, justru hal tersebut tidak adil.

c)   Komutatif
Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi Aristoteles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrim menjadikan ketidak adilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat.
Contoh :
Dr.Sukartono dipanggil seorang pasien, Yanti namanya, sebagai seorang dokter ia menjalankan tugasnya dengan baik. Sebaliknya Yanti menanggapi lebih baik lagi. Akibatnya, hubungan mereka berubah dari dokter dan pasien menjadi dua insan lain jenis saling mencintai. Bila dr. sukartono belum berkeluarga mungkin keadaan akan baik saja, ada keadilan komutatif. Akan tetapi karena dr. sukartono sudah berkeluarga, hubungan itu merusak situasi rumah tangga, bahkan akan menghancurkan rumah tangga. Karena Dr.Sukartono melalaikan kewajibannya sebagai suami, sedangkan Yanti merusak rumah tangga Dr.Sukartono.

2. KEJUJURAN
Kejujuran atau jujur artinya apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya, apa yang dikatakannya sesuai dengan kenyataan yang ada. Sedang kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Untuk itu dituntut satu kata dan perbuatan-perbuatan yang berarti bahwa apa yang dikatakan harus sama dengan perbuatannya. Karena itu jujur juga menepati janji atau kesanggupan yang terlampir melalui kata-kata ataupun yang masih terkandung dalam nuraninya yang berupa kehendak, harapan dan niat.
Hakikat kejujuran dalam hal ini adalah hak yang telah tertetapkan, dan terhubung kepada Tuhan. Ia akan sampai kepada-Nya, sehingga balasannya akan didapatkan di dunia dan akhirat. Tuhan telah menjelaskan tentang orang-orang yang berbuat kebajikan, dan memuji mereka atas apa yang telah diperbuat, baik berupa keimanan, sedekah ataupun kesabaran. Bahwa mereka itu adalah orang-orang jujur dan benar. Dan pada hakekatnya jujur atau kejujuran dilandasi oleh kesadaran moral yang tinggi, kesadaran pengakuan akan adanya sama hak dan kewajiban, serta rasa takut terhadap kesalahan atau dosa.

3. KECURANGAN
Kecurangan atau curang identik dengan ketidak jujuran atau tidak jujur, dan sama pula dengan licik, meskipun tidak serupa benar. Sudah tentu kecurangan sebagai lawan jujur.
Curang atau kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Atau orang itu memang dari hatinya sudah berniat curang dengan maksud memperoleh keuntungan tanpa bertenaga dan usaha. Kecurangan menyebabkan manusia menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya dan senang bila masyarakat sekelilingnya hidup menderita.
Sebab-Sebab Seseorang Melakukan Kecurangan
Bermacam-macam sebab orang melakukan kecurangan, ditinjau dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya ada empat aspek yaitu:
1.      Aspek ekonomi
2.      Aspek kebudayaan
3.      Aspek peradaban
4.      Aspek tenik
Apabila ke empat aspek tersebut dilaksanakan secara wajar, maka segalanya akan berjalan sesuai dengan norma-norma moral atau norma hukum, akan tetapi apabila manusia dalam hatinya telah digerogoti jiwa tamak, iri, dengki, maka manusia akan melakukan perbuatan yang melanggar norma tersebut dan jadilah kecurangan. Tentang baik dan buruk Pujowiyatno dalam bukunya "filsafat sana-sini" menjelaskan bahwa perbuatan yang sejenis dengan perbuatan curang, misalnya berbohong, menipu, merampas, memalsu dan lain-lain adalah sifat buruk. Lawan buruk sudah tentu baik. Baik buruk itu berhubungan dengan kelakuan manusia. Pada diri manusia seakan –akan ada perlawanan antara baik dan buruk. Baik merupakan tingkah laku, karena itu diperlukan ukuran untuk menilainya, namun sukarlah untuk mengajukan ukuran penilaian mengenai halyang penting ini. Dalam hidup kita mempunyai semacam kesadaran dan tahulah kita bahwa ada baik dan lawannya pada tingkah laku tertentu juga agak mudah menunjuk mana yang baik, kalau tidak baik tentu buruk.

4. PEMULIHAN NAMA BAIK
Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menajaga dengan hati-hati agar namanya baik. Lebih-lebih jika ia menjadi teladan bagi orang/tetangga disekitarnya adalah suatu kebanggaan batin yang tak ternilai harganya. Penjagaan nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Atau boleh dikatakan bama baik atau tidak baik ini adalah tingkah laku atau perbuatannya. Yang dimaksud dengan tingkah laku dan perbuatan itu, antara lain cara berbahasa, cara bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatan-perbuatan yang dihalalkan agama dan sebagainya. Pada hakekatnya pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahannya; bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai dengan ahlak yang baik. Untuk memulihkan nama baik manusia harus tobat atau minta maaf. Tobat dan minta maaf tidak hanya dibibir, melainkan harus bertingkah laku yang sopan, ramah, berbuat darma dengan memberikan kebajikan dan pertolongan kepaa sesama hidup yang perlu ditolong dengan penuh kasih sayang , tanpa pamrin, takwa terhadap Tuhan dan mempunyai sikap rela, tawakal, jujur, adil dan budi luhur selalu dipupuk.

5. PEMBALASAN
Pembalasan adalah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat berupa perbuatan serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang.
Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa Tuhan mengadakan pembalasan. Bagi yang bertakwa kepada Tuhan diberikan pembalasan, dan bagi yang mengingkari perintah Tuhan pun diberikan pembalasan yang seimbang, yaitu siksaan di neraka. Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapatkan pembalasan yang bersahabat. Sebaliknya, pergaulan yang penuh kecurigaan, menimbulkan pembalasan yang tidak bersahabat pula.
Pada dasarnya, manusia adalah makhluk moral dan makhluk sosial. Dalam bergaul, manusia harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan moral itu. Bila manusia bermuat amoral, lingkunganlah yang menyebabkannya. Perbuatan amoral pada hakekatnya adalah perbuatan yang melanggar hak dan kewajiban manusia lain. Oleh karena itu manusia tidak menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar, maka manusia berusaha mempertahankan hak dan kewajibannya itu. Mempertahankan hak dan kewajiban itu adalah pembalasan

DAFTAR PUSTAKA

1.      Suyadi, M.P., DRS., Buku Materi Pokok Ilmu Budaya Dasar, Universitas Terbuka, Jakarta, 1995
2.      Hartono, Drs., dkk., Ilmu Budaya Dasar, CV . Pelangi, Surabaya, 1986
3.      Hoegiono, Drs., dkk., Ilmu Budaya Dasar dan PLKH, IKIP Semarang Press, Semarang, 1990

4.      Mochtar Hadi, Ilmu Budaya, UNS, Surakarta, 1986

Read comments


NAMA :Reza anugrah
Kelas  : 15215817
NPM   :1EA26

MANUSIA DAN PENDERITAAN (ILMU BUDAYA DASAR)



BAB V


A.    Makna Penderitaan
                      Penderitaan dari kata derita. Kata derita berasal dari kata bahasa sansekerta dhra artinya menahaan ataau menaggung. Derita artinya menanggung dan merasakan seuatuu yang tidak menyenangan. Yang termasuk penderitaan antara lain:
-kekenyangan
-kesengsaraan               
-kelaparan                                          

                       Di surat Al-Balad ayat 4 diyatakan “manusia ialah makhluk yang hidupnya penuh perjuangan”. Ayat tersebut diartikan , bahwa manusia bekerja keras untuk dapat melangsukan hidupnya. Serta manusia harus taat kepada tuhannya , apabila manusia melalaikany atau kurang sungguh sungguh menghadapinya ,maka akibatnya manusia akan menderita
                       Dan dapat di simpulkan bahwa peneritaan tak dapat di pisahkan dengan kehidupan manusia. Karena setiap orang akan/pernah mengalami penderitaan. Nasib malang atau penderitaan dataang tak dapat di tolak, harus diterima apa adannya, kita pasrah kepada tuhan.

B.    Makna Siksaan
                 Berbicara tentang siksaan, maka terbayang pada ingatan kita tentang neraka dan dosa , an akhirnya firman tuhan dalam Kitab suci Al-Qura’an. Seperti kita maklumi di dalam kitab suci Al-Qura’an terdapat banyak sekali surat dan ayat yang membicarakan tentang siksaa ini .
                            Macam iksann dan bentuk siksaan bertebaran antara 69 buah dari surat Al-Ankabut, antara lain ayat 40 yang mnyatakan : “maing2 bangsa itu kami siksa sengan ancaman siksaan, kareena dosa-dosannya ada diantara kami hujan dengan bat-batu kecil seperti kaum aad, ada yang di gannyang dengan halilintar bergemuruh`dahsyat seperti kaum Tsamud, ad pula yang kami benamkan ke dalam tanah seperti Qarun, dan ad pula yang kami tenggelamkan seperti kaum Nuh. Dengan siksaan siksaan itu, Allah tidak menganiaya mereka, namun mereka lah yang menganiaya diri sendiri, karna dosa dosanya .
                      Di impulkan bahwa, siksaan ta dapat di pisahkan dengan kehidupan manusia. Setiap manusia pernah atau akan menjalani siksaan. Siksaan tak dapat di pisahkan dengan dosa, siksaan yang berhubungan dengan dosa adalah siksaan di hri kiamat, siksaan di neraka merupakan tugas para ahli agama untuk membicarakannya.

C.    Makna Rasa Sakit
               Rasa sakit adalah rasa yang Rasa sakit adalah rasa yang tidak enak bagi si penderita. Rasa sakit akibat menderita penyakit, atau sakit. Sakit perut akibatnya terasa sakit perutnya. Sakit gigi akibatnya terasa nyeri(sakit). Sakit hati akibatnya hatinya teras sakit. Sakit cinta akibatnya hati slalu di ruundung rasa ingin ketemu orang yang di cintaiinya, dan sebagainnya.
                    Rasa sakit dapat menimpa setiap manusia hidup. Kaya miskin, besar kecil, tua-muda,berpangkat atau rendahan tak dapat menghindarkan diri , bila telahtertimpa, orang bodoh atau orang pintar, bahkan dokter sekalipun.
                   Dapat di ssimpulkan bahwa: segala macam rasa sakit atau penyakit yang di derita manusia tak dapat di pisahkan dari kehidupan, karena setiap orang mengalami rasa sakit atau penyakit. Bermacam rasa sakit yang di derita manusia. Sakit hati , sakit syaraf, dan sakit fsik. Setiap rasa sakit ada sebabnya, tetapi tidak semua rasa sakit atau penyakit mudah di ketahui sebabnya.

D.   Sumber Penderitaan

              Manusia pada hakikatnya adalah makhluk hidup yang me Miliki kepribadian yang tersusun dari perpaduan dan saling hubungan dan pengaruh mempengaruhi antara unsur- unsur jasmani,da rohani,dan karena itu penderitaan dapat pulaa terjadi pada tingkat jasmni maupun rohani.
                     Jasmani di sebut juga sebagai tubuh, badan, badan wadaq, jasad, materi, wadah, atau unsur konkrit dari pada pribadi. Jasmani merupakan nsr yang hidup pada pribadi manusia. Di dalam jasmani manusia ada dua unsur-unsur yang selalu berhubungan, yaitu otak dan panca indera
                      Rohani sering di sebut dengan istilah lain seperti misalnya jiwa, badan halus, dan md merupakan unsur yang tidak dapat di tangkap oleh panca indera manusi. Rohani memiliki alat dan kemampuan . alat dan kemampuan itu adalah:
1.       Nafsu
2.       Perasaan
3.       Pikiran
 - Perasaan menyangkut suasan batiniah manusia . kalau seseorang merasa cinta, benci dan sebagainya perasaan cinta atau benci ini tinggal di dalam batin manusia
- Pikiran disebut juga akal,budi. Dimiliknya pikiran ini mmungkinan manusia mempertimbakannnya, membedakan dan mengambil keputusan berdasarkan alasan alasan tersendiri
- Kemampuan disebut juga kehendak. Dimiliknya kemauan atau kehendak dalam iri manusia memungkinkan manusia memilih untuk memilih manusia harus tahu apa yang di pilih.



Daftar Pustaka


Penulis : Drs. Supartono W,2004 jakarta: Ghalia Indonesia



Read comments